Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Februari 2009

Nafas Kehidupan

bagaikan dilanda kemarau panjang
ketika tetesan cahaya meredup hitam
menggelapkan seluruh fikiran dan hati
membutakan kejujuran, keyakinan, kasih sayang
tatkala pohon kehidupan kehilangan nafas


satu-persatu dedaunan cinta luruh membusuk
ranting-ranting keadilan merapuh jatuh
aka keyakinan terkelupas pedih
pohon kebenaranpun mengering kering
belumlagi ketikan badai datang menyapa

kehidupan limbung terombang ambing kehampaan
menanti kehancuran yang digariskan
nafas-nafas itu telah sirna tak terdeteksi
takkan pernah kembali lagi....

Jendela

Angin menerobos memasung waktu
kerdipan gemintang mengisyaratkan nyata
seruling tua merayapi nada yang teraba
senandung sendu membingkai keresahan
menghembuskan cerita teramat lara

sesekali nada itu tersenggal redup
jendela itu masih terbuka lebar
kerlingan lilin pun menari gemulai
sesekali tangan keriput mengusap kedua mata
menuangkan air mata kedalam awan kesedihan

tujuh tahun jendela itu mengabarkan misteri
tertumpahnya suasana yang sulit dimengerti

malam ini jendela itu tiada bersuara
cahaya lilin pun ditelan kelamnya sepi
misteri jendela itu belum terungkap pati
tertutup meninggalkan teka-teki yang teramat ngeri

Selasa, 27 Januari 2009

Denting

Denting…, mengapa kau selalu alirkan cerita
Kau bawa suasana kedalam alunan nada
Menyeret gundah tuk kabarkan kisah
Denting…, kau abadikan suka dan duka
Setiap jiwa terseret selami aroma

Disini denting pecahkan kesunyian
Kulumat seluruh nada dalam tangis
Perlahan jemari ini tebarkan duka
Lirih hanyut dalam kecewa dalam iringan denting

Wahai denting…, tolong tanyakan pada lentera
Mengapa cahaya itu memudar padam
Apakah angin telah usik ketenangan
Disini kubutuh cahaya tuk guratkan langkah
Kubutuh terang tuk perlihatkan jalan

Denting…, kutitipkan padamu suara hati ini
Kumohon abadikan dalam remang malam
Dan ingatkan kembali aku suatu saat nanti
Ketika aku telah rapuh
Ketika aku terkulai luruh

Aku, Dedaunan dan Mentari

Dedaunan yang berjatuhan mensiratkan arti
Sebuah perjalanan panjang penuh makna
Sebuah perjalanan kehidupan nyata
Meniti kerendahan dan konsekuensi makhluk

Kilau mentari memudar menyentuh lembut,
Menerobos kerumunan angin dan debu-debu
Menyusup, meresap, menjalari aliran darah
Mendobrak logika dan sukma yang beku

Kualihkan perhatian bersama pemahaman baru
Menyelami tiap-tiap peristiwa dengan tawakkal
Meresapi kehendakNya dengan kerelaan
Wahai mentari…!kulapangkan jalanku,
Seperti kau lapangkan sinarmu kepada semuanya
Akupun terlahir kembali menjadi sosok yang baru

Lalat Baik Hati

Raut muka kuyu, dekil
Mata sayup menatap gundukkan sampah
Hatinya menjerit, merintih
Batinnya terluka menangis
Wahai nurani kemana engkau pergi…!

Lihatlah aku…!
Hanya berteman lalt disini,
Setiap hari, setiap saat hanya mereka yang sudi berbagi
Seonggok roti bau, sebungkus nasi basi

Wahai nurani kemana engkau pergi
Tengoklah aku disini

Dimana iba para penguasa
Apakah iblis durjana bersemayam dihatinya
Ataukah mabuk oleh air mata rakyat jelata

Lalat temanku, sudahlah
Hanya engkau yang bersedia berbagi
Kapan lagi makanan datang
Tolong sisakan untuk tubuh yang letih ini
Hanya engkau yang mau mengerti

Debu-Debu Kota

Beterbangan, melayang, mengambang di udara
Menempel di dedaunan kering, ia diam, ia bisu, ia tuli
Kemudian terbang lagi tertiup angin
Menempel pada raut wajah kuyu
Sayup-sayup terdengar rintihan memelas
Teriakan yang menyayat nurani suci
Mengais dari iblis-iblis yang baik hati

Ia menjadi saksi walau membisu, ia menangis tanpa air mata
Iapun ikut merintih ketika asap teknologi hinggap di dahinya
Tak rela rasanya kesuciannya ternoda
Di cerca dan di caci pejalan kaki,
Di benci para konglomerat berdasi
Tak sanggup rasanya menatap ketertindasan ini
Terkikisnya nurani insan yang mengutamakan gengsi

Tetapi inilah kenyataan
Tatkala kebenaran terlihat samar-samar
Manakala kebatilan merajai hati nurani
Tatkala asa pergi dari raga yang letih

Inilah yang terlintas di imajinasi
Biarlah tuhan yang menghakimi
Biarlah alam yang mencatat semua ini
Biarlah aku tetap menjadi debu-debu dikota ini
Yang kan bicara di alam yang dinanti-nanti